Somethings you have to believe
Music,Football, etc.
Senin, 20 Desember 2010
INDONESIA BERSATU
Ya,Indonesia bersatu melalui sepakbola dalam ajang piala AFF 2010. Timnas Indonesia berhasil memasuki babak final menghadapi Malaysia setelah sebelumnya berhasil menghentikan aksi kuda hitam Filipina pada babak semifinal. Berhasil menang dengan skor 0-1 pada leg pertama dan 1-0 pada leg kedua yang semua gol nya disarangkan penyerang naturalisasi asal Uruguay "El Loco" Gonzales, terutama gol pada leg kedua karena menendang si kulit bundar dari luar kotak pinalti. Gol itu sangat berkelas dan makin melambungkan nama Gonzales si bintang "baru" timnas Indonesia.
Pada tanggal 26 desember nanti timnas Indonesia akan bertandang ke Kuala lumpur guna melawan Malaysia pada babak final leg pertama dan tanggal 29 desember di GBK Jakarta. Diharapkan nanti dukungan untuk timnas tidak berkurang karena pada sebelumnya penonton yang datang untuk mendukung timnas Indonesia begitu luar biasa,tanpa lelah mendukung tim kesayangannya. Semua beratribut merah putih tidak pandang agama,suku,profesi dll semua bersatu untuk Indonesia. Terlebih lawan yang akan dihadapi Malaysia,tentunya akan semakin membuat rakyat Indonesia bersemangat mengingat hubungan kedua negara sedang tidak baik,mari bela Timnas Indonesia sekuat tenaga,ini kandang kita,GARUDA DI DADAKU!!!
Senin, 04 Oktober 2010
Sepeda Elastis - Bendy bike!!
Jika saat ini kita pikir "Seli" adalah sepeda yang sangat fleksibel karena dapat dilipat tentu skrg perlu dipikirkan lagi apakah hanya "seli" yang fleksibel,coba lihat Bendy bike yang sangat elastis maka ketika ingin memarkir sepeda kalian yg dibutuhkan hanyalah tiang listrik!? ya..untuk jelasnya lihat foto dibawah ini :


Kamis, 19 Agustus 2010
Reflex Dial Series
Reflex Dial Series is the newest line to come out from Casio G-Shock and it uses the popular 5600 models as a base. It is safe to say that this square shape is loved by many G-Shock fans yet it has been in the shadow of recent block buster models. As the name suggests, this series uses a somewhat retro styling that is reflective or hologram like patterns on the dial surrounds. The pattern suits the retro styling of the model and adds personality to the watch. Rest of the watch is kept simple in black, purple or white colors with accents sparkled on it. Expect these to be sitting on the shelves of your local G-Shock stockists.
Rabu, 18 Agustus 2010
Le Foux
ini band gw yg semoga menjadi besar dan terkenal,hehe.. AMIN...
Band ini beraliran british pop (britpop) tapi lebih umum disebut alternative,sering mengcover lagu-lagu dari Oasis,Coldplay,The Killers dan masih banyak lainnya yang menginspirasi musik lefoux itu sendiri.
Terdiri dari :
Doddy - Vocal
Johnny - Synth
Luki - Guitar
Indra - Bass
Cipta - Drum
Kelima personil yang masih dalam kuliah semester akhir ini di pertemukan dalam satu lingkungan permainan yang memiliki background musik yang sama sehingga sepakat mendirikan band LeFoux ini.
kami sedang mempersiapkan demo lagu kita sendiri berjudul "Give love a try" semoga semuanya lancar,hehe..
Untuk saat ini kami sangat butuh event-event untuk menambah pengalaman manggung kami,kalo nantinya band kami ngebooming (sadis bahasanya) maka blog ini yang menjadi sejarah awal band kami,hehee (amin ya Allah)
Contact = Fauzi => 021 919 70806
Bye..
Band ini beraliran british pop (britpop) tapi lebih umum disebut alternative,sering mengcover lagu-lagu dari Oasis,Coldplay,The Killers dan masih banyak lainnya yang menginspirasi musik lefoux itu sendiri.
Terdiri dari :
Doddy - Vocal
Johnny - Synth
Luki - Guitar
Indra - Bass
Cipta - Drum
Kelima personil yang masih dalam kuliah semester akhir ini di pertemukan dalam satu lingkungan permainan yang memiliki background musik yang sama sehingga sepakat mendirikan band LeFoux ini.
kami sedang mempersiapkan demo lagu kita sendiri berjudul "Give love a try" semoga semuanya lancar,hehe..
Untuk saat ini kami sangat butuh event-event untuk menambah pengalaman manggung kami,kalo nantinya band kami ngebooming (sadis bahasanya) maka blog ini yang menjadi sejarah awal band kami,hehee (amin ya Allah)
Contact = Fauzi => 021 919 70806
Bye..
Minggu, 15 Agustus 2010
Coldplay
| coldplay |
Kisah Coldplay berawal dari meja bilyar. Tepatnya sebuah meja bilyar yang terletak di sebuah pub tak jauh dari kampus mereka, University College of London. Satu malam di pertengahan tahun 1996, dua orang mahasiswa tampak asik bermain bilyar. Mereka adalah Jonny Buckland dan Chris Martin. Walaupun beda jurusan - Jonny kuliah di jurusan Matematika dan Astronomi, sedangkan Chris menekuni Sejarah Dunia Kuno - kedua cowok ini sudah lengket satu sama lain atas nama musik.
Nggak berapa lama meja itu nambah satu pemain. Kali ini adalah seorang mahasiswa jurusan Antropologi yang sempet beberapa lama jadi rekan se-tim chris di lapangan hoki kampus. Namanya Will Champion. Sembari terus bermain serta sesekali menenggak bir, ketiga cowok ini ngobrol dan mereka-reka kemungkinan buat sama-sama membentuk sebuah band. Yang pertama kali melontarkan gagasan adalah Chris Martin. Itu dicetuskannya lantaran vokalis yang handal memetik gitar akustik dan piano ini nggak puas sama bandnya saat itu, Pectoralz. Ajakan itu ditangapi serius sama Will. Padahal saat itu ia sudah tercatat sebagai personal band Fat Hamster. serupa juga sambutan dari Jonny. Cowok kelahiran Mold, wales Utara ini, malah langsung ngusulin nama Guy Berryman, temennya di asrama buat melengkapi formasi band.
Saking getolnya bermusik, mereka nggak sempet mikirin soal nama band. Memang mereka pernah melontarkan nama-nama seperti Stepney, Green atau Starfish. Ujung-ujungnya, mereka memilih nama Coldplay, yang merupakan nama band milik salah seorang temen mereka yang udah bubar. "Pokoknya jangan pernah tanya apa arti 'Coldplay'. Soalnya kami sendiri nggak pernah mikirin. Saat itu, cuma kata itulah yang paling masuk akal bagi kami ketimbang pilihan nama lainnya !" ungkap Chris cuek.
Memasuki 1998, Chris cs sepakat buat merekam sebagian materi yang dianggap udah mantap sebagai demo. bermodal beberapa ratus pounds mereka menyewa Sync City Studios dan mulai menggarap demo. Entah kesambet setan mana, rencana membuat demo itu di tengah jalan berkembang menjadi mini album, yang nantinya bakal diedarkan sendiri. Jadilah tuh demo diperbanyak sampe sekitar 500 keping CD dan dirilis pada bulan Mei tahun yang sama dengan titel Safety.
Nggak disangka dari 500 keping yang diedarkan di seputar London, hanya sekitar 50 keping yang tersisa. Nama Coldplay mulai terdengar gaungnya. Beruntung, ada beberapa keping CD yang udah tersebar itu jatuh ke tangan yang tepat. Siapa lagi kalo bukan petinggi-petinggi perusahaan rekaman. Alhasil nggak nyampe setahun kemudian Coldplay teken kontrak pertamanya dengan Parlophone Records.Phil Harvey, yang menukangi manajemen Coldplay, jeli menangkap momen yang bisa melesatkan nama Coldplay. Seakan nggak mau menyia-nyiakan tren yang udah tercipta lewat Brohers and Sisters, Phil kembali menggiring Chris dkk masuk sudio rekaman buat memproduksi satu mini album lagi. Bulan Oktober 1999, mini album bertajuk The Blue Room itu dirilis. diikuti dengan sederet penampilan di berbagai festival bergengsi serta jadi pembuka buat Catatonia, jalan yang dilalui Coldplay saat itu bisa dibilang makin lapang terbentang. Tabloid musik paling bergengsi Inggris, NME, bahkan sempat menyebut mereka sebagai salah satu hottest band tahun 1999.
Ternyata, jalan menuju pembuatan sebuah album penuh, nggak segampang yang dikira. Pasalnya, pihak label mereka saat itu belum terlalu yakin pada nilai jual band ini. Akhirnya, sambil mempersiapkan materi yang bakal dimuat di album penuh itu, Chris cs mutusin untuk sekali lagi merilis satu mini album. Kali ini, materinya adalah kompilasi dari yang pernah dirilis di Safety EP dan Brothers and Sisters plus beberapa materi baru. Biar masih diedarkan dalam jumlah terbatas, mini album bertitel Bigger Stronger itu terbilang sukses makin memancing perhatian khalayak. Terbukti, berbarengan dengan kemunculan album ini, muncul juga kritik yang bilang kalo Coldplay tuh nggak lebih dari sekadar pengekor Radiohead !Nggak disangka dari 500 keping yang diedarkan di seputar London, hanya sekitar 50 keping yang tersisa. Nama Coldplay mulai terdengar gaungnya. Beruntung, ada beberapa keping CD yang udah tersebar itu jatuh ke tangan yang tepat. Siapa lagi kalo bukan petinggi-petinggi perusahaan rekaman. Alhasil nggak nyampe setahun kemudian Coldplay teken kontrak pertamanya dengan Parlophone Records.Phil Harvey, yang menukangi manajemen Coldplay, jeli menangkap momen yang bisa melesatkan nama Coldplay. Seakan nggak mau menyia-nyiakan tren yang udah tercipta lewat Brohers and Sisters, Phil kembali menggiring Chris dkk masuk sudio rekaman buat memproduksi satu mini album lagi. Bulan Oktober 1999, mini album bertajuk The Blue Room itu dirilis. diikuti dengan sederet penampilan di berbagai festival bergengsi serta jadi pembuka buat Catatonia, jalan yang dilalui Coldplay saat itu bisa dibilang makin lapang terbentang. Tabloid musik paling bergengsi Inggris, NME, bahkan sempat menyebut mereka sebagai salah satu hottest band tahun 1999.
Kritik model begini makin santer, ketika mggak lama setelah itu, tuh band merilis singel Shiver yang keren itu. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Shiver kembali direspon antusias. Sempet terdafter sebagai salah satu heavy rotation songs di playlist Radio 1, videoklip singel itu juga lumayan kenceng diputer di MTV. Biar dicela kayak apapun juga, tetep aja singel itu mampu membawa Chris cs ke jenjang yang lebih tinggi dalam karir mereka. Untuk pertama kalinya, Coldplay mampu menembus jajaran Top 40 Inggris. Tapi itu belum seberapa dibanding ketika mereka melepas Yellow sebagai singel berikutnya. Singel yang dibilang Chris tercipta setelah terinspirasi sama cara bernyanyinya Neil Young itu, langsung melesat ke peringkat Top 10 Inggris dan bercokol di posisi 4 selama beberapa minggu nggak lama setelah dirilis. Lirik,"...Look at the stars/look how they shine for you/And all the things you do/And it was all yellow..." langsung jadi satu mantra wajib penggila musik di daratan nggris.
Nggak butuh waktu lama lagi bagi lagu itu jadi anthem anyar generasi yang udah bosen sama deruan gitar distorsi yang membalut lirik-lirik bertemakan kemarahan. Saking populernya, Coldplay pun jadi salah satu band yang paling ditunggu penampilannya di festival musik bergengsi Glastonbury 2000. Menurut Will, waktu itu sebelum manggung mereka nervous setengah mati sebelum naik panggung. Tapi bagaimanapun juga penampilan Coldplay selama 1 jam pada hari kedua festival itu berakhir manis.
Prestasi yang dicetak Yellow, ditambah suksesnya penampilan mereka di Glastonbury otomatis memperlancar jalan yang kudu ditempuh album debutnya yang dikasih judul Parachutes. Album itu dirilis tanggal 1 Juli 2000. Hanya dalam hitungan minggu, album berisi 11 lagu keren itu langsung meroket ke puncak tangga album terlaris di Inggris. Secara artistik, tuh album juga langsung mendapat pengakuan. Mereka sukses menyabet piala di Brits Awards, Mercury Prize, NME Carling Awards, sampai yang paling gres, Grammy Awards. Top banget ! Coldplay is now a really England's next biggest thing !
Hebatnya lagi, apa yang udah diraih itu nggak pernah bisa merubah sifat dasar para personel Coldplay. Sopan, ramah dan rendah hati tetap jadi satu ciri yang mengemuka dari Chris, Will, Guy dan Jonny. "Kami nggak merasa perlu buat berubah. Soalnya kami cukup bersyukur sama apa yang udah kami miliki sejauh ini. Lagian kami juga nggak tau, kalo mau berubah tuh musti berubah kayak apa lagi ?" ucap Guy, polos.
"Buat kami rock 'n roll tuh adalah kebebasan buat melakukan apa yang kami mau. Dan yang kami mau saat ini adalah gaya hidup yang biasa-biasa aja. Nggak perlu drugs apalagi jadi hedonis. Soalnya buat kami hal itu tuh basi dan klise banget. Kami nggak mau terjebak dalam klise-klise macam itu !" tandas Chris.
- Studio albums
- Parachutes (2000)
- A Rush of Blood to the Head (2002)
- X&Y (2005)
- Viva la Vida or Death and All His Friends (2008)
- LP5 (2010)
[edit]
Langganan:
Postingan (Atom)



